ISUPOLITIK.com – Ada sebuah lapak koran yang terletak di depan sebuah depot jamu Cik Tien di jalan Tunggorono, Ungaran, Kabupaten Semarang yang cukup menarik.

Tes Kejujuran Dari Sebuah Koran

Hal yang unik dari sebuah lapak koran ini adalah dimana para pembeli nya mengambil sendiri koran yang di kehendaki, sedangkan untuk pembayaran atas koran yang diambil tinggal dimasukkan kedalam wadah yang sudah di siapkan, tinggal bayar dengan uang pas.

Koran koran yang di jual sudah di tata dengan rapi di sebuah rak berwarna biru, dan pada bagian atas rak tersebut tertulis dengan spidol hitam “Koran kejujuran, ambil sendiri, bayar sendiri dengan uang pas”

Kata kata tersebut di tulis dengan huruf kapital itu sudah mulai samar samar terlihat, mungkin karena termakan oleh waktu dan cuaca. Dan pada bagian kiri atas rak tersebut tercantum nama surat kabar beserta harganya, sedangkan di bagian kanan atas nya tertulis “Anda pasti jujur – Uang masuk kotak”

Sedangkan untuk kotak yang di maksud adalah sebuah botol air kemasan yang di potong setengah dan di paku kan di bagian kiri rak tersebut”

Greger, seorang juru parkir di depan Depot Jamu Jago Cik Tien menyampaikan ke tim ISUPOLITIK.com “biasa nya jam segini pemiliknya masih mengantar koran ke rumah pelanggan, Yang punya nama nya pak Andi, biasa nya sih di panggil Ambon atau Andi Ambon”

Meskipun menjadi tukang parkir disana, Greger mengaku tidak tahu secara pasti kapan Andi memulai lapak “Koran Kejujuran” tersebut. Bagi masyarakat yang kerap beraktifitas di Pasar Bandarjo sudah paham┬ádengan cara menjual koran ala Andi ini.

Menurut Greger, lapak “Koran Kejujuran” ini sangat menguji kejujuran dari pembeli nya dan membuktikan bagaimana mental masyarakat. Selalu ada saja beberapa pembeli yang nakal dan yang tidak mau membayar”

Bahkan kadang ada orang yang turun dari mobil sedan, dan tampak nya bukan orang yang tidak mampu, mengambil koran dan hanya meletakkan uang Rp. 1.500 padahal koran yang di ambil nya waktu itu adalah seharga Rp. 2.500, karena Greger melihat secara langsung maka dia pun mengejar orang tersebut dan menegur nya.

“Kebetulan saya lagi disana dan saya melihat, maka nya saya tegur. Kadang juga ada yang pura pura baca koran nya dulu, kemudian langsung berjalan pergi menenteng koran tersebut tanpa membayar” kata Greger.

Dia pun mengaku tidak bisa setiap saat melihat dan mengawasi aktifitas para pembeli “Koran Kejujuran” itu karena dia juga sibuk harus mengatur parkiran sepeda motor para pengunjung pasar. Dan lagi, si pemilik lapak, Andi Ambon juga tak pernah meminta diri nya untuk mengawasi lapak dagangan korannya tersebut.

Sekitar pukul 07.00 WIB seorang pria berperawakan tambun turun dari ojek dengan membawa segepok koran dan beberapa tabloid. Geger lalu memberitakukan bahwa pria yang memakai kaos dan topi berwarna kuning tersebut adalah Andi Ambon.

Saat disapa, pria itu tersenyum ramah. “Nama saya Surdalis, tapi orang memanggil saya Andi Ambon. Dipanggil Ambon karena saya hitam, padahal saya aslinya dari Padang,” kata Surdalis.

Pria kelahiran Sawah Lunto, 58 tahun lalu itu mengaku sudah berjualan koran di Ungaran sejak tahun 2000. Ia tinggal sebuah rumah kontrakan di kawasan Dliwang, Ungaran Barat bersama istrinya.

Ide membuka lapak “Koran Kejujuran” ini, jelas Surdalis baru dilakukannya sejak dua tahun yang lalu. Saat itu dirinya bingung lantaran disaat ia berkeliling menjajakan koran di pasar Bandarjo, ternyata banyak pembeli yang menunggunya di tempat ia mangkal di depan depot jamu Cik Tien.

“Tumpukan koran memang saya taruh di bangku di depan toko jamu Cik Tien, sementara saya keliling. Pembeli yang kelamaan nunggu, akhirnya tidak jadi beli,” ujarnya.

Sudarlis menyadari keputusannya membuka lapak koran kejujuran ini berpotensi merugi. Ia tak menampik pernah kehilangan uang, atau ada orang yang mengambil koran tapi tidak membayar. Namun ia meyakini bahwa masih banyak warga kota Ungaran yang jujur ketimbang yang tidak jujur.

“Percaya masih banyak yang jujur, kalau hilang satu atau dua koran saya anggap masih wajar. Saya ikhlaskan saja,” tandasnya.

Pekerjaan sebagai loper koran menurut Andi Ambon sebenarnya bukan pekerjaan yang menguntungkan secara finansial. Sebab sumber informasi saat ini tidak hanya dari koran, sehingga orang yang membeli koran semakin sedikit.

“Cukup tidak cukup, ya di cukup-cukupin,” ucapnya.

Sejak subuh buta, Ambon memulai aktivitasnya. Ia berjalan kaki dari rumahnya menuju kawasan Sebantengan untuk mengambil koran dari agen. Setelah itu kembali ia berjalan kaki menuju pasar Bandarjo yang jaraknya mencapai satu kilometer.

“Kadang-kadang saja saya ngojek. Suatu saat pengennya punya motor sendiri, biar memudahkan pekerjaan saya,” pungkas Ambon

LEAVE A REPLY