ISUPOLITIK.com – Sebuah artikel yang di tulis oleh HEBRON SIDABUTAR di SEWORD.com ini menjadi bahan renungan Mengapa Banyak Yang Menjadi Umat Yang Radikal?

Sebuah pertanyaan, Mengapa Banyak Yang Menjadi Umat Yang Radikal? Ini merupakan hasil mengamati, merasakan lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. (hanya pemikiran pribadi) penulis.

Pertama-tama mari kita pahami dulu apa itu arti dari radikalisme. Radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.
Radikalisme – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Radikalisme

Mengapa Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya radikalisme?

Lemahnya Instrumen Pemerintahan
Diera pemerintahan orde baru dibawah presiden Soeharto jarang sekali kita mendengar kata-kata radikalisme justru sebaliknya yang di kumandangkan adalah semangat kebhinekaan persatuan dan kesatuan.
Pembaca seword.com tentu masih ingat bukan semboyan TVRI pada masa kepemimpinan Soeharto ?
“TVRI Menjalin Persatuan Dan Kesatuan” hebat bukan?

Terlepas dari kekurangan atau baik dan buruk kepemimpinannya, Soeharto adalah salah satu tokoh pemersatu bangsa ini. Ditangannya dan juga dengan caranya sendiri Dia berhasil membendung ajaran radikalisme dan premanisme walau disisi yang lain tidak diikuti dengan pelayanan yang baik dari aparat pemerintahannya kepada warganya.

Apa maksud dari tidak diikuti dengan pelayanan yang baik dari aparat pemerintahannya?
Kalau kita mau jujur, sejak jaman orde baru pun bibit-bibit korupsi dan nepotisme itu sudah kelihatan dengan kasat mata. bukan rahasia umum lagi kalau segala urusan harus pakai uang. pelayanan mulai dari tingkat RT/RW sampai ke lembaga tertinggi pun semua harus pakai uang pelicin. Inilah salah satu kegagalan pemerintah orde baru dalam manajemen pemerintahannya. sangat disayangkan diakhir dari kepemimpinannya Soeharto harus menelan pil pahit karena Dia dipaksa untuk mundur dari tahta kepresidenannya.

Setelah berakhir rezim Soeharto anak-anak bangsa ini seperti mendapat kemerdekaan yang sesungguhnya, bebas dalam segala hal. Tokoh-tokoh politik saling sikat sana sikat sini, hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan bisa diraih dari berbagai penjuru, mau lewat partai, mau lewat ormas, mau lewat preman yang penting massa pengikut banyak, uang mengalir kekuasaan akan ditangan.

Bibit dari semua kekurangan soeharto itu akhirnya tumbuh subur di pemerintahan berikutnya. Hiruk pikuk kebebasan itu akhirnya menjalar sampai ke semua instansi pemerintahan, mulai dari DPRnya, Kementriannya, Kepolisian sampai lini terendah didalam pemerintahan RT/RW. Pemerintah yang seharusnya mengayomi dan melindungi serta melayani warganya akhirnya tidak mampu untuk berbuat sesuatu. Sebagai contoh kita kasih kasus kecil-kecilan aja dulu ya, bayangkan hanya untuk mengurus surat RT/RW saja kita harus mengeluarkan “pelicin” dan memakan waktu satu – dua bulan. itu baru ditingkat keluarhan loh 🙂

Coba kita naik lagi ke tingkat lebih tinggi ke dunia pendidikan, anda pernah ingat kasus “joki” untuk masuk perguruan tinggi? Bayangkan hanya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri kita harus menyogok dosen atau bayar joki agar sianak bisa kuliah di perguruan tinggi tersebut. soal sogok menyogok bukan rahasia umum lagi bukan? Bukan rahasia umum lagi ketika masuk PNS atau TNI harus pake “Mahar”.

Bukan rahasia umum lagi kalau Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan adalah lahan yang subur untuk korupsi, nepotisme dan lain sebagainya. Lembaga yang seharusnya tempat untuk mendapatkan keadilan justru tidak didapatkan oleh masyarakat.

Pemerintahan yang silih berganti mulai dari Pemerintahan BJ.Habibie, Pemerintahan Gusdur, Pemerintahan Megawati sampai Pemerintahan SBY tidak pernah dapat merubah keadaan tersebut.
Bobrok bukan?

Mengapa Banyak Yang Menjadi Umat Yang Radikal?

Munculnya Radikalisme
Munculnya radikalisme dikarenakan oleh ketidak percayaan masyarakat kepada aparat pemerintahan.

Apakah pembacaa seword pernah melihat maling atau perampok dibakar massa? seperti itulah bentuk-bentuk ketidak percayaan masyarakat itu kepada penegak hukum.

Dari semua ketidak adilan itu akhirnya memunculkan semacam perlawanan, perlawanan yang awalnya mungkin spontan tetapi lama kelamaan mejadi kelompok massa yang sangat besar. Akhirnya ada beberapa tokoh agama, tokoh politik yang ingin mengubah situasi tersebut. para tokoh itu mengorganisir lalu kemudian mendoktrinnya lewat ajaran agama, lewat ormas dan partai.

Ada beberapa penyebab lahirnya radikalisme :
1. Pengajaran jihad dan mati syahid
Pengajaran dan pemahaman yang salah akan melahirkan prilaku yang salah juga.
Jihad adalah prinsip perjuangan suci yang tidak selalu berarti perang fisik. Kalaupun terjadi perang fisik, jihad memiliki aturan dan mekanisme baku yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Begitu juga dengan konsep mati syahid yang merupakan penghormatan puncak dari Tuhan kepada mereka yang menegakkan ajaran-Nya dengan cara-cara luhur
Pemahaman ini tidak sampai dengan baik dan benar akhirnya jihad dan mati syahid dianggap membenarkan aksi-aksi keras teroris.
Padahal, jihad dan mati syahid tidak seperti yang teroris pahami.

2. Kesejahteraan
Adanya persoalan kesejahteraan di masyarakat, seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial. Telah banyak fakta di lapangan menyuguhkan kenyataan bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial mampu membuat seseorang melakukan apa pun yang menguntungkan, walaupun itu jelas terlarang seperti radikalisme.

3. Ideologi negara Agama.
Pada tahap tertentu ideologi negara agama turut menyuburkan paham terorisme. Karena sebagaimana diakui para teroris, mereka menjalankan semua aksinya dengan tujuan mendirikan negara agama. Bagi mereka, pemerintahan yang ada saat ini (termasuk Indonesia) mengikuti sistem kafir.

4. Paham salafisme.
Salafisme adalah kecenderungan yang membayangkan masa lalu sepenuhnya suci, ideal, sempurna, tanpa kekurangan apa pun. Pada era suci inilah negara agama diyakini pernah ada dan berdiri tegak dengan nilai-nilai luhur yang dipraktikkan paripurna.

Revolusi Mental
Agar terbebas dari radikalisme itu maka harus dimulai dari revolusi mental. Seperti ungkapan pak Joko Widodo “Bangsa ini harus direvolusi mentalnya”.
Revolusi mental tentunya bisa melalui tindakan yang baik-baik, dan bisa juga dengan tindakan yang tidak baik

Tindakan yang baik adalah merangkul, mengajari mereka sebagai bagian dari bangsa ini. Dan tindakan yang yang tidak baik adalah dengan membasmi keempat ideologi di atas atau dengan kata lain Lenyapkannn!!!!titik

Tentunya bangsa ini masih panjang perjalanannya, jangan sampai ke generasi anak cucu kita bangsa ini menjadi bangsa yang bar bar.

Salam damai!

LEAVE A REPLY