ISUPOLITIK.com – Artikel yang di tulis oleh Petrus Wu di SEWORD ini sangatlah akurat karena Tulisan Ini Menampar Para Sumbu Pendek Yang Bodoh.

Pemboikotan Sari Rati pasca aksi 212 kemarin setelah pihak Sari Roti memberikan klarifikasi mengenai pembohongan publik bahwa Sari Roti membagikan roti gratis di acara 212 tersebut. Tulisan Ini Menampar Para Sumbu Pendek Yang Bodoh karena percaya akan berita roti gratis tersebut dan malah tersinggung setelah mendapatkan klarifikasi dari pihak Sari Roti.

Tulisan Ini Menampar Para Sumbu Pendek Yang Bodoh

Petrus Wu – Saya sering sekali menjumpai istilah ‘sumbu pendek’. Belakangan ini barulah saya paham artinya. Terutama setelah mengikuti ‘kasus’ Sari Roti.

Di aksi Super Damai 212, rupanya ada orang yang memborong Sari Roti dalam jumlah banyak dan membagikannya secara gratis. Hal tersebut tentu sah-sah saja. Karena memang roti tersebut dijual kepada umum dan siapapun boleh membeli. Yang tidak biasa adalah memasang tulisan “Gratis Untuk Mujahid” di gerobak (hawker tricycle) Sari Roti dan dilayani oleh pedagang roti berseragam lengkap dari perusahaan. Andaikata donatur tersebut memborong rotinya dari pabrik. Dimasukkan ke kantong kresek, dibagikan oleh ibu-ibu simpatisan aksi Super Damai 212, saya yakin tidak akan sampai jadi berita. Dan tidak akan ada klarifikasi apapun dari Sari Roti.

Membagikan roti saja tentunya kurang seru. Wong Aksi Super Damai dengan umat 7,5 Juta orang kok hanya bagi-bagi roti. Kurang ajaib! Maka dirangkai dongeng tentang Sari Roti ini. Alkisah, diceritakan ada seorang tukang roti yang rela menyedekahkan 6 roti kepada para Mujahid dan kemudian diganjar dengan pahala kilat berupa uang Satu Juta Rupiah. Tidak kurang dari Aa Gym juga menyebarkannya di Twitter disertai twit : “Siapapun yang senang berbuat kebaikan dengan tulus, niscaya Alloh berikan aneka kejutan penambah iman”. Mungkin Satu Juta Rupiah khayalan tadi yang dimaksud sebagai penambah iman, saya sendiri juga kurang jelas.

Tulisan Ini Menampar Para Sumbu Pendek Yang Bodoh

Sepertinya cerita ini yang sampai kepada pihak manajemen Sari Roti. Makanya mereka mengawali klarifikasi mereka dengan kalimat : “Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai adanya pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle) pada Aksi Super Damai 212”

Sari Roti berhak dan wajib melakukan klarifikasi karena properti mereka digunakan tanpa seijin mereka. Sekali lagi, seandainya tidak ada gerobak roti dan pedagang berseragam lengkap, saya yakin mereka tidak akan melakukan klarifikasi. Seperti berbagai merk air mineral yang tetap santai-santai saja, karena properti dagang mereka tidak ikut di sana. Bayangkan kalau ada seorang pedagang Coca-cola berkaus merah dengan logo Coca-cola di dadanya, membentangkan spanduk dengan logo Coca-cola, mengembangkan tenda berwarna merah dengan logo Coca-cola, lalu dia membagikan Coca-cola gratis. Saya jamin Coca-cola juga akan membuat surat klarifikasi. Sehingga sampai di sini saya super bingung, mengapa klarifikasi tersebut membuat sekelompok orang tersinggung sampai memboikot Sari Roti. Saya tidak menemukan penjelasan yang masuk akal selain ya itu : emang dasar sumbu pendek.

Tulisan Ini Menampar Para Sumbu Pendek Yang Bodoh

Sumbu pendek ini adalah istilah untuk menggambarkan orang yang sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit merasa dizhalimi, sensi bukan main, lalu tanpa merasa perlu meminta penjelasan melakukan aksi boikot dan demo. Persis itulah yang terjadi kepada Sari Roti. Untung Sari Roti ini sebuah perusahaan. Kalau Sari Roti ini manusia, saya jamin akan dituduh melakukan penistaan agama juga seperti yang terjadi pada Ahok.

Namanya sumbu pendek, orang mau bicara apapun tetap saja salah. Ibarat orang lagi sensi, kalau ada yang bisik-bisik, dianggap sedang membicarakan dia. Padahal ya belum tentu. Berbagai klarifikasi yang sebenarnya netral-netral saja kok, tetap dianggap menghina.

Kalimat ini dianggap sebagai tuduhan seakan-akan Aksi Super Damai 212 tidak nasionalis dan memecah-belah NKRI. Padahal kalau orang waras yang membaca. pasti tidak akan menangkap hal tersebut. Hal tersebut hanya bisa ditangkap orang golongan sumbu pendek. Tapi bisa jadi juga seperti ini. Pernah gak waktu kuliah dulu, kita terpaksa kentut di kelas? Dan ternyata sebelum berangkat kuliah, kita sarapan nasi uduk dengan lauk pete. Sehingga satu ruang kelas pun semerbak bau pete. Tiba-tiba dosen bertanya: “Siapa nih yang kentut?” Si dosen tidak menuduh kita kentut, namun hati kecil kita tahu bahwa kita lah yang telah membuang gas beracun di dalam kelas.

“Dengan tidak mengurangi apresiasi kami atas Aksi Super Damai kemarin, dengan ini kami sampaikan bahwa PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. tidak terlibat dalam semua kegiatan politik. Kemunculan informasi mengenai pembagian produk Sari Roti secara gratis oleh penjual roti keliling (hawker tricycle), merupakan kejadian yang berada diluar kebijakan dan tanpa seijin PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Sumber : Klarifikasi produsen Sari Roti PT Nippon Indosari Corpindo Tbk”

Ini pun dianggap sebagai kalimat yang salah. Padahal apa salahnya kalau mereka menjelaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam kegiatan politik. Malah aneh kan kalau sebuah perusahaan publik terlibat dalam kegiatan politik. Oya. Ada lagi yang menyalahkan dengan alasan Aksi Super Damai 212 kan bukan kegiatan politik. Biarkanlah mereka berhalusinasi. Tapi kalau pun memang Aksi Super Damai 212 bukan kegiatan politik, ya gak usah sensi dan marah-marah. Wong, mereka hanya bilang mereka tidak terlibat dalam kegiatan politik apapun. Mereka kan tidak mencap Aksi Super Damai 212 sebagai kegiatan politik. Sekali lagi inilah tandanya orang sumbu pendek. Mereka akan mengartikan kalimat orang lain sesuka hati mereka.

“Pihak Pembeli meminta agar produk tersebut dapat diantarkan ke area pintu masuk Monas dan dipasangkan tulisan “gratis” tanpa pengetahuan dan perijinan dari pihak PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.”

Sumber : Klarifikasi produsen Sari Roti PT Nippon Indosari Corpindo tbk

Ini kalimat yang membuat golongan sumbu pendek meledak.  Kata-kata “tanpa pengetahuan dan perijinan” diartikan oleh kaum sumbu pendek seakan-akan pihak perusahaan tidak mendukung bahkan anti Aksi Super Damai 212. “Kalau Sari Roti anti Aksi Super Damai 212, kami pun anti Sari Roti. Boikot Sari Roti.” Mungkin begitu pemikiran kaum sumbu pendek. Padahal sekali lagi, pernyataan tersebut netral-netral aja kok bagi orang yang waras. Memang perusahaan tidak tahu dan tidak pernah mengeluarkan ijin kok. Ini kan inisiatif donatur misterius tersebut. Pihak perusahaan berhak menyatakan bahwa mereka tidak terkait dengan tindakan tersebut. Ibarat, kita menjelaskan soal mantan kepada keluarga kita. Ketika kita bilang: “Sudah tidak ada hubungan apapun”. Tidak berarti kita menuduh mantan kita orang jahat. Kita hanya klarifikasi bahwa kita tidak lagi punya hubungan dengan Sang Mantan.

Buat teman-teman tercinta , orang-orang Jepang yang duduk di manajemen Sari Roti yang pasti super bingung. Harap maklum. Memang ada sedikit orang Indonesia yang sumbu pendek. Sebagian besar dari kami bukan sumbu pendek kok. Kami masih cerdas dan waras dan bisa melihat hal netral sebagai hal netral. Jangan kapok investasi di Indonesia. Orang Indonesia mudah lupa kok. Sekarang boikot, tidak lama lagi juga lupa sendiri. Nanti juga makan Sari Roti lagi, apalagi kalau dibagi gratis.

Oleh Petrus Wu

1 COMMENT

  1. semakin lama semakin susah nyari orang yang rasional deh, dimana-mana tersinggung, dimana-mana ngga baca dengan teliti, terus langsung berasumsi yang aneh aneh tanpa ada klarifikasi LANGSUNG kepada pihak terkait (Sari roti).

LEAVE A REPLY