ISUPOLITIK.com – Ahmad Syafii Maarif yang biasa di panggil Buya Syafii kini harus tegar menghadapi dan menerima dengan hati besar berbagai hujatan dari netizen yang anti Ahok lantaran Mantan Pimpinan PP Muhammadiyah itu membela Ahok.

Sungguh mengejutkan, rupanya inilah sosok Buya Syafii yang sebenarnya. Hanya karena mengatakan sebuah kalimat “Ahok bukan orang jahat” di acara ILC nya TV One, sekarang para netizen yang anti Ahok berbondong bondong mengeluarkan ejekan, hinaan dan meme kasar kepada Buya Syafii bertuliskan “maaf, anda bukan buya kami lagi”

Karena tak tega melihat seorang Buya Syafii yang di hujat terus menerus oleh netizen, seorang pengguna Facebook bernama Erizeli Jely Bandaro menuliskan sebuah pengalaman pribadi nya yang mengejutkan tentang siapa sebenar nya sosok Buya Syafii sebenarnya lewat akun facebook nya Erizeli Jely Bandaro.

Buya Safie Maarif..

Tahun 2003 sehabis sholat jumat saya mampir ke Restoran Padang di daerah gondangdia. Saat baru duduk di restoran, nampak seorang pria setengah baya masuk restoran. Saya kenal pria itu karena wajahnya tidak asing. Dengan wajah teduh dan senyum menyebar seisi ruangan. Pelayan restoran menghampiri dan menyalami seraya mecium punggung tangan pria itu.” Assalamualaikum, buya ? Kata pelayan itu. Saya juga tergerak mendekatinya ” Assalamualaikum , Buya. .Sehat selalu ya buya. ” Beliau tersenyum kearah saya.

” Doakan saya Buya semoga bisa pergi ke tanah Suci. Saya ingin sekali Buya.” Kata saya.Dengan tersenyum dia memeluk saya sambil berbisik. “Saya akan doakan kamu Nak.”. Alhamdulilah tiga bulan setelah itu, istri saya mendaftarkan saya sebagai jamaah Haji. Saya teringat akan Buya. Betapa tidak. Dengan kesibukan saya hampir tidak mungkin saya punya waktu atau memikirkan untuk mendaftarkan pergi Haji. Namun entah mengapa istri berinisiatif mendaftarkan saya pergi haji. Semoga Buya selalu sehat.

Apa yang saya tahu tentang Buya.? Setelah PP Muhammadiah di pimpin Amin Rais yang berhenti karena masuk arena politik. PP Muhammadiah di pegang oleh Prof Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif. Beliau sangat bersahaja. Di bawah pimpinannya Muhammdiah lebih menjadi pemersatu dan di garis depan memberikan pencerahan kepada umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di samping terus meningkatkan peran serta Muhammdiah di bidang sosial yang tersebar di seluruh nusantara. Setelah tidak lagi menjabat di muhammadiah, beliau menjauh dari hiruk pikuk politik walau tawaran jabatan terus berdatangan. Namun bila ada konplik dan negara minta beliau sebagai penengah, beliau akan datang sebagai solusi dan pendamai.

Buya dikenal umum sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi.Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai “Bapak Bangsa”. Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri. Mungkin dia berbeda sikap namun tidak sepantasnya dia di hujat dengan bahasa kasar hanya karena dia berbeda. Bukankah kita di ajarkan untuk berlapang dada terhadap perbedaan dan memberikan kesempatan siapapun untuk menyampaikan sikapnya selagi itu dalam wacana keilmuan. Karena tidak ada satupun kita bisa menjamin kita paling benar.

Andaikan semua orang Islam membenci Ahok, saya yakin Buya adalah orang terakhir yang akan ada di samping Ahok. Karena Buya tidak melihat Ahok tapi membela keyakinannya bahwa Ahok tidak bersalah. Sebuah kata yang benar lebih berat dari dunia. Kebenaran selalu menang dari yang batil. Saya berdoa untuk Buya agar tetap istiqamah dalam perjuangannya dengan keyakinanya untuk perdamaian dan indonesia seharusnya damai karena islam mengajarkan soal itu…

Buya adalah teladan yang mengajarkan kita untuk rendah hati, menjauhi kemewahan dunia, menjadi pendamai, menghidupkan dakwah dengan akhlak namun tidak mencari hidup dari dakwah.

LEAVE A REPLY