ISUPOLITIK.com – Tulisan percakapan “Ngobrol dengan ‘Donald Trump'” ini memang fakta bahwa Masih Banyaknya Orang Bodoh dan Sesat Agama di Indonesia.

Ini lah realita masyarakat kita Indonesia, Masih Banyaknya Orang Bodoh dan Sesat Agama di Indonesia sudah bukan lah hal baru, dengan sedikit ajakan berbalut agama, maka semua akan semangat untuk ikut tanpa tahu apa sebenar nya yang di bela. Padahal bukan lah agama yang di bela tapi kepentingan pribadi seorang oknum yang haus kekuasaan.

Eko Kuntadhi – NGOBROL DENGAN ‘DONALD TRUMP’

NGOBROL DENGAN ‘DONALD TRUMP’

“Bro, Ahok itu kristen. Cina lagi. Sementara kita ini mayoritas muslim pribumi. Masa kita beri kesempatan yang minoritas untuk memimpin mayoritas. Indonesia itu negara demokrasi. Dan sejatrinya demokrasi adalah suara mayoritas, bro. Bukan suara minoritas.” Teman saya tiba-tiba ngomong politik. Saya sedang malas membahas soal Ahok. Kali ini saya lebih tertarik bicara soal Pilpres di AS.

“Bosen ah, ngomongin Ahok terus. Mending ngomong soal Pilpres di AS. Ente dukung siapa, Hillary Clinton apa Donald Trump?”

“Mending Hilarry dong. Donald Trump memusuhi umat islam. Mentang-mentang di sana umat Islam minoritas…”

“Iya sih…”

“Trump itu juga rasis. Dia seperti mengagungkan supremasi kulit putih. Lihat saja, kaum imigran dan kulit berwarna menjadi musuhnya,” teman saya agak berapi-api membahasnya.

“Jadi, ente sebel jika di AS, umat Islam yang minoritas dipojokan oleh Donald Trump?”

“Sebagai muslim, tersinggunglah…”

NGOBROL DENGAN ‘DONALD TRUMP’

“Bro, Ahok itu kristen. Cina lagi. Sementara kita ini mayoritas muslim pribumi. Masa kita beri kesempatan yang minoritas untuk memimpin mayoritas. Indonesia itu negara demokrasi. Dan sejatrinya demokrasi adalah suara mayoritas, bro. Bukan suara minoritas.” Teman saya tiba-tiba ngomong politik. Saya sedang malas membahas soal Ahok. Kali ini saya lebih tertarik bicara soal Pilpres di AS.

“Bosen ah, ngomongin Ahok terus. Mending ngomong soal Pilpres di AS. Ente dukung siapa, Hillary Clinton apa Donald Trump?”

“Mending Hilarry dong. Donald Trump memusuhi umat islam. Mentang-mentang di sana umat Islam minoritas…”

“Iya sih…”

“Trump itu juga rasis. Dia seperti mengagungkan supremasi kulit putih. Lihat saja, kaum imigran dan kulit berwarna menjadi musuhnya,” teman saya agak berapi-api membahasnya.

“Jadi, ente sebel jika di AS, umat Islam yang minoritas dipojokan oleh Donald Trump?”

“Sebagai muslim, tersinggunglah…”

“Tapi Donald Trump pendukungnya banyak, mas bro.”

“Itu kan di AS, masih banyak orang yang rasis dan anti-Islam. Mentang-mentang mereka mayoritas, mereka seenaknya mau menindas umat muslim yang minoritas…”

“Bener juga.”

“Semestinya dalam negara yang adil dan demokratis kaum mayoritas gak boleh menindas yang minoritas. Harusnya malah jadi pelindung.”

“Kalau nanti ada seorang muslim maju jadi Presiden di AS, bakal diganjel gak ya, oleh rakyat AS yang mayoritas non-muslim?”

“Kalau AS benar-benar mau menjunjung demokrasi, harusnya semua warganya, apapaun agamanya ya, diberi kesempatan dong. AS kan bukan negara agama seperti Vatikan atau Tibet. Kita juga wajib bersyukur jika nanti ada muslim yang maju sebagai Capres AS. Itu benar-benar kemajuan bagi kekuatan dunia Islam.”

“Kalau publik AS menentang Capres muslim, gimana bro?”

“Jika masyarakat AS menentang karena agama Capresnya, berarti mereka masih hidup dalam peradaban kuno. Jangan ngomong demokrasi dan kemajuanlah, jika masih diskriminatif dengan umat muslim.”

“Maksudnya, diskriminatif terhadap minoritas?”

“Iya. Muslim di AS kan, minoritas…”

“Kembali ke soal Ahok, mas bro. Ente setuju dia jadi Gubernur?”

“Ya, gaklah…”

“Kenapa?”

“Kan tadi udah ane kasih tahu, dia itu Kristen dan Cina. Masa mau jadi pemimpin di negara yang mayoritas muslim, sih…”

“Bro, ngomong-ngomong disini ada toilet gak ya?,” kataku. Entah kenapa tibat-tiba perut saya mules…

Oleh : Eko Kuntadhi di ekokuntadhi.com

LEAVE A REPLY